Foto istimewa
Tapanuli Tengah, AMVI – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengambil langkah cepat dengan membebaskan penggunaan barcode untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera. Keputusan ini diambil untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar di tengah kondisi darurat.
“Tidak perlu pakai barcode (BBM), ini dalam rangka mengantisipasi (gangguan distribusi) semua,” ujar Bahlil saat meninjau langsung proses pemulihan akses energi di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (2/12/2025).
Kebijakan ini diambil menyusul data dari Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 yang mencatat bahwa musibah di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat telah mengakibatkan 753 korban jiwa, 650 orang hilang, dan 2.600 korban luka-luka. Bencana hidrometereologi ini menyebabkan gangguan distribusi BBM dan listrik, terputusnya jaringan internet, serta lumpuhnya akses transportasi akibat longsor dan jembatan putus di sejumlah daerah.
Bahlil meminta masyarakat untuk mendukung pelaksanaan kebijakan sementara ini dan tidak menyalahgunakannya. “Saya mohon kepada saudara-saudara saya di sini, agar tolong jangan disalahgunakan. Artinya, kita harus pakai betul-betul sesuai dengan kebutuhan,” tegasnya.
Selain itu, Bahlil menginstruksikan seluruh SPBU di wilayah terdampak bencana untuk beroperasi 24 jam, guna mempercepat pemulihan layanan energi kepada masyarakat. Kebijakan darurat ini diharapkan mempermudah pasokan BBM untuk distribusi logistik, mobilisasi alat berat, serta pergerakan tim penanganan bencana yang terkendala gangguan jaringan dan akses yang sulit.
Pemerintah melalui PT Pertamina Patra Niaga juga mempercepat pengiriman dan menambah mobil tangki BBM serta personel pengangkutan. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memberikan relaksasi operasional agar alokasi BBM dapat dipindahkan antarkabupaten/kota dalam provinsi yang sama jika diperlukan, menyesuaikan perubahan jalur akses pasca bencana.
(Robinson)

