Dokumen/Foto Istimewa
Pematangsiantar, Sumut, 9/4/2025– Kisah inspiratif datang dari seorang tokoh yang berperan penting dalam penetapan Hari Jadi Kota Pematangsiantar. Pada tahun 1984, Sahat menjabat Kaur Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan Data di BAPPEDA Kotamadya Pematangsiantar, beliau berinisiatif untuk menentukan hari jadi kota yang hingga saat itu belum ditetapkan. Terinspirasi oleh perayaan hari jadi kota-kota lain yang meriah, beliau menemui Walikota Drs. Djabanten Damanik untuk membahas hal tersebut.
Perjalanan untuk menemukan hari jadi Kota Pematangsiantar tidaklah mudah. Meskipun telah mengundang para pakar sejarah dari USU dan tokoh masyarakat, khususnya Marga Damanik, selama dua bulan pencarian menemui jalan buntu. Perdebatan antara figur tua suku Simalungun yang lebih mengutamakan tradisi lisan daripada data sejarah menghambat proses tersebut.
Di tengah kebuntuan ini, beliau menunjukkan kegigihan dan kebijaksanaan. Untuk sementara, ditetapkanlah tanggal 24 April 1907 sebagai Hari Jadi Kota Pematangsiantar. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan hari dijatuhkannya hukuman kepada Raja Siantar Sangnaualuh oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Keputusan ini diambil untuk menghindari perdebatan yang berkepanjangan, sekaligus merayakan hari jadi kota bersama seluruh warga dan pemerintah kota. Lebih lanjut, ornamen kantor dan instansi di Kota Pematangsiantar pun dihiasi dengan nuansa Simalungun.
Kisah Sangnaualuh sendiri merupakan bagian penting dari sejarah Pematangsiantar. Beliau menolak menandatangani perjanjian tunduk kepada Hindia Belanda, sehingga ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bengkalis hingga wafat pada tahun 1914. Yang menarik, Sangnaualuh merupakan seorang muslim sejak tahun 1901 dan dimakamkan di Bengkalis dengan gelar “Radja Batak beragama Islam”.
Dedikasi beliau terhadap sejarah Pematangsiantar tidak berhenti sampai di situ. Beliau juga menulis buku tentang sejarah Siantar dan memperjuangkan pengembalian Gedung Pasangrahan Raja Maropat kepada keluarga besar Kerajaan Siantar. Bahkan, bersama almarhum Marsekal Muda Purn. Syahalam Damanik, beliau berupaya menghubungkan sejarah Kota Pematangsiantar dengan Kabupaten Simalungun, mengingat letak geografis dan administrasi pemerintahan pada masa lalu.
Hingga kini, beliau menyimpan situs dan benda-benda pusaka yang berkaitan dengan sejarah Siantar. Kisah ini menjadi bukti nyata tentang semangat dan dedikasi seorang individu dalam melestarikan sejarah dan membangun kotanya. Semangat beliau patut menjadi inspirasi bagi kita semua dalam menjaga dan memajukan daerah kita.
Laporan: Robinson Togap Siagian

